Mendorong Monetisasi Data yang Adil dan Transparan dengan Teknologi Blockchain

Model monetisasi data yang ada saat ini bersifat tertutup dan amat bergantung pada perusahaan penyedia aplikasi sebagai
perantara (intermediary). Para
perantara tersebut memiliki keleluasaan untuk mengumpulkan mengolah, lalu
kemudian menjualnya kepada pihak ketiga. Pengguna sama sekali tidak memiliki
kendali atas data yang mereka munculkan setiap saat melalui aplikasi media
sosial, permainan, pasar digital, maupun transportasi daring yang penggunaanya
saat ini sudah menyentuh banyak aspek kehidupan.

Memang benar bahwa pada setiap aplikasi terdapat ketentuan layanan
pelanggan yang biasanya menyebutkan bahwa para penyedia aplikasi tersebut boleh
jadi akan mengumpulkan data dari pelanggan untuk kepentingan tertentu. Namun
demikian, kebanyakan pelanggan sama sekali tidak menyadari akan hal ini
terlebih pada fakta bahwa data tersebut kemudian akan diperjualbelikan.

Menyadari akan hal ini, sebuah proyek keterlibatan data bergerak (mobile engagement data) dengan menggunakan teknologi blockchain bernama SwipeCrypto menawarkan sebuah aturan main baru di mana para pihak yang terlibat dalam lalu-lintas data akan mendapatkan bagian yang adil dan transparan. Clifford Lim, CEO dari SwipeCrypto, mengatakan,”Data transaksi nasabah, pergerakan orang, dan pilihan belanja seharusya tidak secara sepihak dijual kepada pihak ketiga tanpa disetujui oleh pemakai aplikasi sebagai sumber data.”

Bagi
Hasil yang Adil antara Pengguna dan Pengembang Aplikasi

Dalam ekosistem SwipeCrypto, pengguna aplikasi merupakan sisi penjual yang memiliki kendali atas data pribadi sehingga mereka bisa memilih data apa saja yang akan dibuka ke pasar data atau bahkan bisa memilih untuk samasekali tidak membagikan datanya. Pengembang aplikasi akan tetap mendapatkan bagian sewajarnya namun tidak lagi menjadi penguasa data satu-satunya karena tata kelola data dilakukan secara terdesentralisasi. Keterlibatan baik di sisi pengguna maupun pengembang aplikasi akan diganjar dengan nilai tertentu dalam hal ini aset kripto.

Sudah umum diketahui bahwa korporasi yang bergerak di berbagai sektor,
besar maupun kecil, membutuhkan data untuk kepentingan riset pemasaran. Tak
jarang mereka menyewa konsultan riset pemasaran khusus dan bersedia membayar
mahal hanya untuk mengumpulkan data pelanggan melalui metode survei.

Kini model pengumpulan data tersebut sudah mulai ditinggalkan dan
digantikan oleh para penyedia aplikasi yang amat kaya akan data pengguna.
Pengumpulan data melalui aplikasi dapat bersifat masif, berlangsung terus
menerus selama 24 jam, dapat menjangkau area yang luas dan mendekati waktu
nyata. Dengan algoritma tertentu maka kesukaan dan perilaku pengguna aplikasi
sebagai calon pelanggan dapat dipilah secara cepat dan tepat.

Satu hal lagi yang mungkin sulit dilakukan dengan metode riset pemasaran biasa adalah mengetahui secara persis lokasi dan pergerakan calon pelanggan dalam kesehariannya. Aplikasi transportasi daring maupun media sosial mampu dengan mudah memvisualisasikan pergerakan pelanggan sehingga komponen place dalam bauran pemasaran 4 P dapat didekati secara lebih pasti.

true deficit

Baca Juga: Perlunya Perlindungan Data Pribadi Pelanggan

Transparansi dan Integritas Data
dengan Teknologi Blockchain

Di samping segala kelebihan model pengumpulan data pemasaran di atas,
masih terdapat satu kelemahan mendasar yakni kurangnya transparansi dan
ketertelusuran yang memengaruhi integritas data. Data yang disajikan kepada
korporasi sebagai pembeli data merupakan hasil kompilasi yang mana
asal-muasalnya tidak dapat dipastikan. Clifford Lim menambahkan, “Beberapa kali
kami menelusuri sendiri sumber data dari aplikasi belanja online yang ternyata
lokasinya berasal dari tengah laut.”

Secara terpisah, Teguh Kurniawan Harmanda, ketua Yayasan Ethereum Meetup
Indonesia menyatakan,”Teknologi blockchain memungkinkan setiap informasi dapat
ditelusuri asal-muasalnya karena sifatnya yang tidak dapat diubah secara
sepihak.” Blockchain melekatkan sifat kebendaan pada data digital sehingga
pergerakannya dapat dicatat selayaknya sebuah transaksi yang disaksikan oleh
banyak pihak.

Dengan demikian, satu data pelanggan
tidak dapat dijual berkali-kali kepada pembeli data tanpa mencatatnya pada buku
besar. Pengguna aplikasi sebagai pemilik data dapat mengetahui berapa kali data
yang ia ciptakan digunakan oleh pembeli data. Sementara itu, korporasi sebagai
pembeli data akan dengan mudah menelusuri asal muasal data yang tersaji dari
aplikasi meskipun mungkin sudah dalam bentuk kompilasi sekalipun.

The post Mendorong Monetisasi Data yang Adil dan Transparan dengan Teknologi Blockchain appeared first on Coinvestasi.