Menakar Nasib Halving Bitcoin di Tengah Pandemi Covid-19

Menurut perkiraan Halving Bitcoin ketiga tinggal menghitung  hari, peristiwa bersejarah bagi raja aset kripto ini akan terjadi pada pekan kedua bulan Mei 2020. Di halving pertama  dan kedua  harga Bitcoin berhasil naik pesat, terutama di halving kedua pada 2016. Satu tahun setelah momen tersebut, pada akhir tahun 2017 Bitcoin berhasil mencapai $20.000, yang merupakan rekor harga tertingginya saat ini.

Melonjaknya harga Bitcoin karena halving sebelumnya tentu menimbulkan keyakinan jika harga aset ini akan kembali menggembirakan karena halving ketiga. Namun di halving saat ini kondisi global telah berubah,  kita terperangkap di pandemi Covid-19 yang turut membuat ekonomi dunia morat-marit.  Lalu, bagaimanakah nasib Halving Bitcoin di tengah pandemi ini?

Baca juga: Pencarian Bitcoin Halving di Google Meningkat Signifikan

Halving Bitcoin di Waktu yang Tidak Tepat 

Menurut Gabriel Rey, CEO TRIV pada dasarnya halving akan tetap terjadi ada atau tidaknya pandemik saat ini. Tapi yang membedakan adalah euforia momen ini yang biasanya akan disambut meriah namun sekarang tertutup oleh adanya pandemi dan krisis global. 

 “ Apabila terjadi krisis Bitcoin pasti terkena, sebab nomor satu yang orang pentingkan selama krisis adalah bertahan hidup bukan bagaimana caranya membeli Bitcoin. Halving disayangkan terjadinya berbarengan dengan pandemi sehingga bitcoin halving kemungkinan besar akan menjadi muted event atau tidak berpengaruh selama krisis ini terjadi, “ jelas Gabriel 

Ia juga menyoroti jika kondisi market sekarang sangatlah berbeda dengan halving sebelumnya. Sekarang sudah terdapat pasar derivatif yang membuat Bitcoin tidak selangka dulu terlebih sejak status pandemi diumumkan  volume perdagangan Bitcoin juga menurun 

“ Mengingat bahwa kita masih dalam krisis , maka lebih besar kemungkinan bitcoin untuk turun kembali jika sp500 juga turun dalam 1-2 bulan kedepan, “ katanya lagi.

Walaupun halving ditengah krisis, kemungkinan harga Bitcoin naik pun tentu masih ada. Ceo Triv ini kembali menegaskan jika ini akan sangat bergantung kepada perbaikan ekonomi global. 

“ U shape atau V shape, kemungkinan terbaik V shape, dengan begitu maka 2021 Bitcoin bisa mencapai ATH. Namun jika USA menunjukan perlambatan ekonomi dengan U shape maka butuh waktu 2-3 tahun untuk melihat kenaikan harga Bitcoin sesudah halving, “ pungkasnya. 

Tetap Optimis Meski Halving di Saat Pandemi Covid-19

Meski halving Bitcoin disaat pandemik, namun tidak sedikit pelaku pasar yang optimis jika halving tetap akan membuat harga Bitcoin mengalami kenaikan dalam waktu hitungan bulan. Salah satunya adalah Sumardi Fung, CEO Rekeningku.com 

“ Ketika halving terjadi saya tetap yakin akan memiliki dampak dalam kenaikan harga Bitcoin, walaupun tidak akan secara instan. Mungkin butuh waktu beberapa bulan, karena supply Bitcoin semakin langka dan susah didapatkan, “ jelasnya

Ia juga menekankan jika Bitcoin masih memiliki kepercayaan publik yang kuat meski pandemi berlangsung, walau saat 12-13 Maret lalu bursa saham dan crypto anjlok. Bitcoin berhasil mengalami 90% recovery, dan jauh lebih baik dari saham yang belum mengalami pemulihan sebanyak Bitcoin.

“ Halving ini sesuatu yang luar biasa dan dan membuat nila Bitcoin semakin  kuat seiring berjalannya  waktu, “ ujar Sumardi

Sedangkan Jeth Soetoyo CEO Rupiah token dan Founder Pintu mengatakan jika hampir seluruh aspek pasar keuangan dan investasi terkena dampak karena pandemik ini.

Prioritas sebagian besar orang saat ini adalah untuk menjaga agar keuangan mereka dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, pada jangka panjang, harga Bitcoin akan semakin menguat seiring dengan penurunan jumlah Bitcoin yang dapat ditambang pasca-halving.

” Banyak platform investasi lain sedang mengalami penurunan cukup besar karena efek Corona namun harga bitcoin semakin menguat dan tetap bertahan, ” kata Jeth

Oscar Darmawan, CEO Indodax juga optimis jika momen halving Bitcoin di tengah pandemik ini akan membuat orang-orang tetap kembali berinvestasi di Bitcoin atau aset kripto lain.  

“Biasanya, setahun setelah fenomena halving day, harga bitcoin meningkat sangat tinggi. Bisa dilihat pada halving day sebelumnya, tahun 2016. Saat itu, harga 1 BTC berkisaran $300-400 naik menjadi $1000 pada awal 2017. Di awal 2018 menjadi sekitar $14.000,” jelasnya.

Oscar menambahkan bahwasannya momen halving akan bisa meningkatkan harga Bitcoin beberapa tahun ke depan sehingga dalam periode ini akan banyak masyarakat yang percaya terhadap aset kripto, khususnya Bitcoin yang bisa menjadi sarana untuk meningkatkan aset di masa depan.

Pendapat Trader Crypto Mengenai Halving di Tengah Pandemi

Salah satu trader profesional dan pendiri Bullwhales  Douglas Tan turut memberikan pendapatnya seputar nasib halving Bitcoin yang akan terjadi di saat pandemi dan krisis global.  

Menurutnya tahun ini banyak faktor yang harus dipertimbangkan, karena di tahun-tahun sebelumnya belum ada infrastruktur yang memadai untuk mengakses Bitcoin. Ditambah dengan pertumbuhan permintaan yang masif pada tahun tersebut, sehingga dibutuhkan capital inflow atau besaran uang yang tidak terlalu besar untuk menggerakkan harga. 

Hal ini kontras dengan kondisi tersebut, halving ketiga pada tahun ini sudah dilengkapi dengan infrastruktur memadai untuk mengakses bitcoin, dengan kecenderungan minat hampir sama. Mengakibatkan bitcoin harus menghadapi beberapa tantangan untuk dapat menyentuh nilai ATHnya lagi.

Jika ditelaah dari sudut pandang pandemi, harus diakui jika Bitcoin memang belum dapat menunjukan dirinya sebagai aset dengan risiko yang kecil di tengah kondisi global yang tidak pasti. 

“ Bitcoin masih dinilai sebagai risk-on asset (aset spekulatif), sama seperti beberapa kelas aset seperti saham dan komoditas. Oleh karena itu, bitcoin harus dapat melepaskan diri dari pergerakan legacy market (seperti public equity market / pasarsaham), agar atraktif bagi sejumlah investor, “ ujarnya 

Selama Bitcoin tidak dapat melepaskan diri dari korelasi positif atau negatif dengan market tradisional, maka investor bisa memiliki lebih banyak pilihan untuk melakukan lindung nilai di luar pasar Bitcoin. 

Selain Douglas, ada Chris Tahir trader dan pendiri Cryptowatch juga memberikan pendapatnya soal halving tahun ini. Menurutnya pandemi sepertinya tidak akan memberikan efek signifikan bagi Bitcoin karena Bitcoin pun belum memegang kategori safe haven asset, sehingga pandemik atau krisis belum bisa membuat harga Bitcoin mengalami kenaikan. 

“ Efek halving hanya memperlambat suplai, yang artinya apabila inflasi ekonomi lebih cepat dibandingkan inflasi harga BTC. Maka harga BTC akan naik, dikarenakan nilai mata uang semakin rendah. Di sisi lain, agar harga bisa naik, maka dibutuhkan demand, dimana sampai saat ini demand BTC tampak tidak naik signifikan seperti yang diharapkan para penggiat crypto, “ jelasnya. 

Sedangkan menurut Wicky Zeroski, halving tahun ini meski terjadi di tengah pandemi tetap bisa membuat harga Bitcoin mengalami kenaikan. 

“ Seharusnya kalau kita lihat dari cycle dan sejarah sebelumnya, sejarah akan berulang, “ ungkapnya.


Berbagai pandangan seputar nasib Bitcoin Halving di tengah pandemi ini memang beragam, ada yang tetap optimis jika harga akan tetap mengalami kenaikan. Namun ada juga yang menganggap jika halving di kondisi saat ini bisa dibilang “kurang tepat” mengingat daya beli masyarakat yang semakin berkurang untuk membeli Bitcoin.

Namun untuk melihat nasib Bitcoin akan seperti apa saat atau sesudah halving, yang jelas kita mengetahui jika halving tetap akan terjadi sesuai jadwal dan akan mengurangi pasokan BTC di pasar. Soal harga? kita masih membutuhkan waktu untuk melihatnya. 


Ini adalah seri pertama untuk menyambut Bitcoin Halving, untuk artikel selanjutnya dapat Anda dapatkan di sini

The post Menakar Nasib Halving Bitcoin di Tengah Pandemi Covid-19 appeared first on Coinvestasi.